Rusdy S. Ansya
Kamis, 02 Maret 2017
Jumat, 19 Agustus 2016
Cerpen Hujan Diatas Kepedihan.
*Hujan Diatas Kepedihan*
#RealStory_Rusdy
Written By : Rusdy S. Ansya
*MOHON MAAF APABILA TIDAK SECARA REALITA,BIASA SAJA, ADA KESAMAAN NAMA,MOHON DIMAAFKAN, KARENA INI HANYA UNTUK KESENANGAN SEMATA*
×××××××××
Tatkala kerinduan melihat kita. Bagaimana tanggapan kita saat dilandainya?
Bagaimana kita harus menghadapinya?
Bagaimana kita mengakhirinya?
Semua dari pertanyaan itu hanya ada satu jawaban.
Yaitu *Temui Dia*
××××××××××××
Angin mengiringi langkah kakinya.
Pergi tanpa arah yang tak menentu.
Tanpa petunjuk jalan.
Dan ia melawan datangnya angin.
Ia tak tahu harus kemana ia melangkah.
Apa yang akan ia tuju?
Tak ada.
Hanya mengikuti keinginan hatinya.
×××××××××
Mia : Dimana kamu ....? Kamu yang dulu selalu melindungi aku!!! Melindungi dari segalanya!! Kamu .. menghilang bagaikan ditelan bumi. Aku ingin kamu ada disamping aku saat ini!! Temani aku untuk melangkah , temani aku tuk tertawa , temani aku tuk bahagia!!
Suara hatinya berkata bahwa ia merindukan sesosok sahabat yang sudah menghilang dan tak akan bertemu lagi. Ia terus berjalan melewati jalan yang panjang ... tanpa berhenti.
*Braaaaaak*
*Pyaaaaarr*
*Buuuuuuk*
Gadis itu dihantar kerumah sakit untuk diperiksa karena mengalami tabrak lari. Dengan keadaan darah yang terus mengalir dari kepala bagian belakangnya, Hidungnya, matanya. Dan ibunya melihat dan berfikir ia tak akan selamat dengan kondisi yang parah!!
××××××××××
2 bulan berlalu.
××××××××××
Ia berjalan seperti biasa, tetapi ada dua hal yang berbeda dari gadis kecil ini. Ia berjalan dengan tuntunan sebuah tongkat, nampaknya ia memandang pandangan yang kosong seolah-olah mengalami kebutaan.
Ia berjalan di perkebunan teh, merabah dedaunan teh yang subur dan memetikkannya. Salah satu yang ia harapkan sejak kecilnya adalah *Memetik Bintang Seperti Memetik Teh* entah apa makna dari keinginannya sejak kecil. Ia berjalan lagi entah kemana. Ternyata ia pergi kesebuah ayunan yang tergantung dipohon yang rimbang. Ia duduk sambil mengayunkan dirinya secara perlahan. Dibelakang pohon ternyata ada seorang pria lucu dan tampan yang bernama Agung. Ia sedang menggambar dibuku gambarnya, dan nampaknya ia sedang kesulitan mendapatkan imajinasi dan gambaran difikirannya. Mia sedang berayun keras sampai-sampai terlihat oleh Agung.
Sejak saat itu, Agung mendapatkan inspirasi didalam fikirannya untuk menggambar, dan sejak saat itu juga Agung mengagumi Mia.
×××××××××
Keesokkan harinya.
Mia kembali lagi keayunan tersebut dan kali ini ia dihantarkan oleh ibunya. Di ayunan tersebut terletak sebuah kertas dengan sebuah gambaran, entah apa gambarnya.
Halimatus : Kalau begitu .. ibu tinggal sebentar ya? Nanti .... menjelang siang .. ibu jemput kamu lagi.
Mia hanya tersenyum dan si ibu pergi.
Mia berniat untuk membersihkan ayunan tersebut dengan tangannya. Dan saat ia meletakkan tangannya diayunan tersebut ia merasakan bahwa ia seperti memegang sebuah kertas,bukan kayu. Agung kembali datang dan mengintip dari belakang pohon yang berbeda di kejauhan. Pria itu sangat senang sekali melihat bahwa kertas darinya iti dibaca oleh gadis itu. Mia lantas melipatnya dan memasukkannya kedalam saku celanannya.
××××××××××
Saat malam tiba.
Mia sedang meminta tolong memberitahukan gambar dan tulisan dikertas gambar yang ia temukan itu kepada kakaknya yang beda satu tahun dengannya. Adiknya itu bernama "Alfiah".
Alfiah : disini gambarnya cuma kamu ... sedang main ayunan disebuah taman. Dan ada tulisan "Tak ada Hujan Diatas Kepedihan" cuma itu. Wah ... romantis banget nih anak? Siapa namanya?
Mia hanya mengangkat kedua bahunya dan tersenyum.
Alfiah : apa dia tahu kalau kamu nggak bisa ngelihat dan nggak bisa ngomong?
Dia mengambil buku gambarnya dan menunjukan sebuah tulisan darinya yang sudah tulis dijauh-jauh hari. Karena ia tahu, kakaknya akan menanyakan pertanyaan itu saat ada yang berbeda dari Mia. Salah satunya hanya mendapatkan sebuah gambar dan surat.
Alfiah : aku bahkan tidak tahu siapa dia? (Membaca tulisan Mia dibuku Gambar) oh .... ok!!!
××××××××××
Keesokkan harinya Agung datang lagi untuk menempelkan gambarnya diayunan yang sama untuk diberikan kepada Mia.
Saat ia hendak menempelkan gambarnya tersebut, tiba-tiba kakaknya Mia datang memanggilnya.
Alfiah : Kamu?
Agung lantas berlari karena terkejut karena ia berfikir gadis itu adalah Mia.
Alfiah : Tunggu. (Robbie berhenti) ada sesuatu yang pengen aku omongin sama kamu.
×××××××××
Saat malam tiba divilla kediaman Agung, ia teringat oleh percakapannya dengan Bila.
××××××××××
[Flash Back]
Bila : gadis yang waktu itu kamu lihat,dia adik aku. Kamu mengira kalau dia itu sempurnah. Kamu mengira dia itu nggak ada beban. Tapi kamu nggak tahu satu hal yang mengganjil dari dia. Dia itu nggak bisa ngelihat dan ngomong.
Robbie : sebab-akibatnya?
Bila : dia pernah mengalami tabrak lari dan itu yang membuatnya kehilangan penglihatannya dan suaranya.
×××××××××
Keesokkan harinya.
×××××××××
Lagi-lagi Mia terlihat sedang menikmati keseruan bermain ayunan bersama kakaknya. Tak lama kemudian Agung datang menghampirinya untuk kemberanikan dirinya berbicara dengan Mia.
Agung : Mia. (Grogi)
Mendengar suara seorang lelaki, ekspresi wajah Mia nampak bingung. Lantas sang kakak menjelaskan semuanya kepada Mia bahwa yang selama ini Mia mendapatkan kertas gambar itu dari Agung.
Alfiah : biar aku yang jelasin sama kamu. Selama ini .. gambar itu dari Agung. Dan waktu itu aku kesini buat cari dia buat jelasin semua tentang kamu ke dia.
Agung : ia benar.
Alfiah : huuuffftt .... kalau gitu, kakak tinggal sebentar ya? Mau cari minuman dekat sini.
Mia pun menggelengkan kepalanya yang menandakan bahwa ia tidak memperbolehkan kakaknya pergi. Lalu kakaknya pun pergi dan membiarkan Mia berbicara berdua dengan Agung.
Agung : uhmmm .... setiap hari kamu disini? (Mia menganggukkan kepalanya) sendiri? (Mia mengangkat kedua bahunya) terkadang? Jadi apa tujuan kamu datang kesini? Menenangkan diri atau bereleksasi? (Mia menunjukan dua jarinya) oh .. dua-duanya? (Mia menunjuk ke Agung) kalau aku ... aku kesini cuma mau cari inspirasi buat ngegambar. Dan kalau lagi bosen dirumah ... aku selalu kesini!! Terkadang juga aku jalan-jalan keliling kebun teh? (Mia menggerakkan dua jarinya seperti kaki yang sedang berjalan) ia jalan-jalan. Oh ... gimana kalau kita jalan-jalan? Tenang aja aku nggak jahat kok. Toh .. aku juga bakalan nganterin kamu ke villa kamu buat pulang.
Mia pun lantas menganggukkan kepalanya, Robbie menggenggam tangan Mia untuk menuntun Mia berjalan.
*bayangin aja jalan²nya se-sweet apa*
Mereka berkeliling perkebunan teh. Berseru,dan membantu pemetik teh yang tengah memetik teh. Melihat Senyuman Mia yang sangat bahagia membuat Agung juga ikut bahagia.
Hingga malam hari mereka tiduran menghadap arah berbeda. Mia menghadap ke barat dan agung ketimur, dan kepala mereka berdampingan. Mia pun menuliskan suatu kata diudara untuk Agung yang bertuluskan
"Terimakasih kamu sudah menemani aku jalan-jalan hari ini. Ini adalah pertemuan terakhir kita. Aku bakalan kekota buat operasi mata aku. Mengganti mata aku dengan mata baru. Aku akan bisa melihat lagi. Dan aku pengen dengan mata baru aku .... aku bisa melihat kamu."
Agung : aku juga senang. Melihat kamu bahagia pun itu sudah cukup. Uhm ... aku harus nungguin kamu dimana ya? Supaya aku bisa ngelihat kamu dengan mata baru kamu? Bagaimana ..... besokkan pohon pada gugur tuh? Aku tunggu disana aja.
Setelah sampai divilla kediaman Mia, Agung mengantarkannya sampai didepan rumanya saja.
Agung : sampai ketemu besok ya dengan mata barunya? (Mia mengaanggukkan kepalanya)
Lalu si ibu dan kakaknya keluar menemui Mia yang sudah berada diluar rumah.
Agung : tante?
Halimatus : kamu siapa?
Agung : uh .... (bingung)
Alfiah : nanti Alfiah ceritain,ma didalam.
Halimatus : ini sudah malam loh? Apa kamu nggak dicariin sama orang tua kamu?
Agung : ia tante. Ini juga saya mau pulang. Saya pamit tente, kak?
Alfiah : iya. Hati-hati.
××××××××××
Keesokkan harinya.
××××××××××
Mia tengah menjalani operasi penggantian bola matanya dengan yang baru. Agung tengah menunggunya dipohon dimana tempat saat pertama mereka bertemu. Saat itu pohon sedang kekeringan karena musim kemarau. Dedaunan menjadi Cokelat dan Satu persatu secara perlahan gugur. Melaksanakan operaso tidak memakan banyak waktu hanya 1 Jam saja. Selama satu jam itu juga Agung.
×××××××××
1 Jam 15 menit kemudiaaaan ....
1 jam 30 menit kemudiaaaan ....
Hingga sore pun tiba!!!
Pukul 05:24 WIB.
××××××××××
Mia datang dan berlari untuk menemui Agung yang mungkin sudah menungguinya sangat lama. Tapi kebahagiaannya itu berlangsung singkat, karena ia menemukan Agung sedang terbaring menutup mata dengan mulut yang berkeluarkan Nanah berwarna kuning. Dengan mengenggam secarik kertas, dan disaat itu dedaunan pohon yang kering hanya meninggalkan sedaun lagi berwarna cokelat. Ia lantas menampah kepalanya agung ke pangkuannya dan mencoba membangunkannya dan membersihkan nanah di mulutnya dengan bajunya. Ia hanya bisa berteriak karena ia tak mampu berkata apapun lagi. Disana juga ia sempat membaca kertas tersebut.
"Maukah kamu jadi pendamping hidup aku!!" Isi kertas tersebut
Hanya kata sesingkat itu ... ia hanya bisa mampu mengungkapkannya lewat kertas dan tulisan. Tak mampu lewat bibirnya yang lucu. Tapi .. takdir berkata lain .. apabila sudah waktunya .. maka terjadilah, tak akan bisa ditundanya.
Sedaun cokelat yang masig tergantung dibatang pohon itu telah gugur, terbang bersama angin menebarkan satu ketulusan.
*SELESAI*
Special Thanks To : Agung Mardhani, Mia Sri Devi, Halimatus Sa'diyah, Muhammad Ishaq, Nur Cholifah (SMP Tri Tunggal II), Alfiah Rachmawati.







